Powered By Blogger

Senin, 08 Juni 2015

Efek Rumah Kaca

PENGERTIAN
Efek rumah kaca merupakan proses pemanasan dari permukaan suatu benda langit atau diangkasa yang disebabkan oleh komposisi serta keadaan atmosfernya. Benda-benda langit yang dimaksudkan terutama adalah planet maupun satelit.
Efek rumah kaca mempunyai kaitan yang sangat erat dengan gas rumah kaca. Hal ini lantaran gas rumah kaca itu merupakan sekumpulan gas-gas pada atmosfer yang menjadi sebab adanya efek rumah kaca. Gas-gas yang disebut gas rumah kaca bisa muncul secara alami di lingkungan bumi, namun bisa juga timbul karena aktivitas manusia.
Setidaknya gas rumah kaca yang dianggap paling banyak adalah berasal dari uap air yang dimana unsur tersebut mencapai atmosfer akibat penguapan air laut, danau serta sungai. Sedangkan karbondioksida merupakan gas terbanyak kedua setelah uap air. Untuk gas rumah kaca lain dari proses alami diantaranya adalah letusan vulkanik dari gunung berapi, pernapasan hewan maupun manusia yang menghirup oksigen lalu membuang karbondioksida serta dan pembakaran material organik seperti tumbuhan maupun kegiatan industri. Meskipun uap air juga turut bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari adanya efek rumah kaca, namun kebanyakan orang menganggap bahwa efek rumah kaca hanya diakibatkan oleh naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) serta gas-gas lain. Anggapan tersebut memang bisa dianggap tidak salah, namun kurang tepat.

KARBONDIOKSIDA
Kenaikan karbon dioksida (CO2) yang merupakan sejenis senyawa kimia berbentuk gas ini biasanya disebabkan oleh adanya pembakaran bahan bakar minyak, batu bara serta bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan maupun laut untuk menyerapnya. Hal inilah yang akhirnya mengakibatkan adanya efek rumah kaca.

METANA
Gas  Hidrokarbon Metana biasanya dilepaskan selama produksi serta transportasi batu bara, gas alam, maupun minyak bumi. Metana yang dianggap sebagai komponen utama gas alam masuk dalam kategori gas rumah kaca dan mengakibatkan efek rumah kaca.

NITROGEN OKSIDA
Sebuah gas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan juga dari lahan pertanian. Gas Nitrogen Oksida dihasilkan dari reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara saat terjadi pembakaran, biasanya pada suhu tinggi. Sering kali gas ini berasal dari tempat dengan kepadatan lalu lintas tinggi. Gas ini juga termasuk gas rumah kaca dan bisa mengakibatkan efek rumah kaca.

GAS-GAS LAIN
Selain Karbondioksida, Metana dan Nitrogen Oksida yang menyumbang gas rumah kaca, ada pula beberapa gas lain diantaranya adalah belerang dioksida, klorofluorokarbon (CFC) dan lain-lain.

AKIBAT EFEK RUMAH KACA
Sudah sejak lama para ilmuwan mengkhawatirkan akibat dari efek rumah kaca karena bisa merusak lingkungan. Salah satu akibatnya yang sudah terasa adalah dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang akhirnya bisa mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem. Tentunya hal tersebut dapat mengakibatkan terganggunya hutan serta ekosistem lain di bumi, dan mengurangi kemampuannya guna menyerap karbon dioksida di atmosfer.
Efek rumah kaca sebenarnya tidak selalu buruk dan justru sangat dibutuhkan karena jika tidak ada nantinya bisa mengakibatkan bumi menjadi sangat dingin atau bisa keseluruhan akan tertutupi es. Namun jika gas-gas yang bisa membuat efek rumah kaca telah berlebihan di atmosfer, akibatnya akan mengakibatkan pemanasan global.
Ada satu cara yang “mujarab” untuk mengurangi gas rumah kaca, yakni dengan memelihara pepohonan serta menanam pohon lebih banyak. Pohon dianggap mampu menyerap karbon dioksida lebih cepat dan dalam jumlah banyak, memecahnya melalui fotosintesis, maupun menyimpan karbon pada kayunya. Salah satu upaya dunia internasional untuk menanggulangi gas rumah kaca adalah dengan mengadakan konvensi yang disebut Protokol Kyoto. Protokol Kyoto memerintahkan negara-negara dunia untuk berkomitmen mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida serta lima gas rumah kaca lainnya untuk menanggulangi dampak efek rumah kaca.


Sabtu, 06 Juni 2015

Manfaat Sinar Matahari Bagi Kehidupan

Sinar matahari yang terpancar ke bumi menghantarkan panas untuk menjaga suhu di permukaan bumi. Hal inilah yang memungkinkan bumi menjadi satu-satunya planet yang berpenghuni. Selain itu, jarak antara matahari dan bumi merupakan jarak yang paling ideal sehingga bumi tidak menjadi tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas untuk mahluk hidup.
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama dalam kehidupan. Pada proses fotosintesis tumbuhan  melibatkan sinar matahari sebagai energi yang dibutuhkan. Jika tumbuhan tidak berfotosintesis, maka kehidupan tidak akan berlanjut mengingat sumber makanan bagi herbivora tidak akan tersedia. Sebagai akibatnya, karnivora dan omnivora pun tidak akan mendapatkan sumber makanan lagi.
Gaya gravitasi matahari memiliki peran besar dalam menjaga planet-planet yang mengelilinginya untuk tetap berotasi dan berevolusi pada porosnya. Tanpa gaya gravitasi ini, planet-planet yang ada, termasuk bumi, tidak akan memiliki orbit tetap sehingga sistem tata surya tidak akan pernah terbentuk. Energi yang dihasilkan dari sinar matahari dapat dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik. Saat ini, telah banyak yang menggunakan energi ini sebagai sumber energi alternatif selain minyak bumi dan bahan bakar fosil lainnya.
Untuk kesehatan, cahaya matahari berperan besar dalam produksi vitamin D di dalam tubuh manusia. Pancaran sinar ultraviolet dengan kadar yang cukup merupakan fakktor utama dalam produksi vitamin D tersebut. Oleh karena itu, kegiatan berjemur di pagi hari telah dilakukan oleh manusia sejak jaman dulu sebagai kebiasaan yang baik dan sehat.
Cahaya matahari masih memiliki banyak fungsi yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Sebagai manusia, sudah sewajarnya kita bersukur atas nikmat yang diberikan Tuhan ini dengan berperan aktif dalam menjaga lingkungan di sekitar kita agar sinar matahari yang kita dapatkan akan tetap pada kadar yang kita butuhkan. Ingat, pemanasan global yang terjadi merupakan akibat dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.
Sumber : http://infomanfaat.com/888/manfaat-sinar-matahari-bagi-kehidupan/alam

Fase Bulan

Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi, dan merupakan satelit alami terbesar ke-5 di Tata Surya. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya sendiri dan cahaya Bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari.

Jarak rata-rata Bumi-Bulan dari pusat ke pusat adalah 384.403 km, sekitar 30 kali diameter Bumi. Diameter Bulan adalah 3.474 km, sedikit lebih kecil dari seperempat diameter Bumi. Ini berarti volume Bulan hanya sekitar 2 persen volume Bumi dan tarikan gravitasi di permukaannya sekitar 17 persen daripada tarikan gravitasi Bumi. Bulan beredar mengelilingi Bumi sekali setiap 27,3 hari (periode orbit), dan variasi periodik dalam sistem Bumi-Bulan-Matahari bertanggungjawab atas terjadinya fase-fase Bulan yang berulang setiap 29,5 hari (periode sinodik).

Fase bulan adalah bentuk bulan yang selalu berubah-ubah jika dilihat dari bumi. Fase bulan itu tergantung pada kedudukan bulan terhadap matahari dilihat dari bumi. Fase bulan disebut juga aspek bulan. Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing fase Bulan :


Fase 1 – New Moon (Bulan baru): Sisi bulan yang menghadap bumi tidak menerima cahaya dari matahari, maka, bulan tidak terlihat.
Fase 2 – Waxing Crescent (Sabit Muda) : Selama fase ini, kurang dari setengah bulan yang menyala dan sebagai fase berlangsung, bagian yang menyala secara bertahap akan lebih besar.
Fase 3 – Third Quarter (Kuartal III): Bulan mencapai tahap ini ketika setengah dari itu terlihat.
Fase 4 – Waxing Gibbous: Awal fase ini ditandai saat bulan adalah setengah ukuran. Sebagai fase berlangsung, bagian yang daftar akan lebih besar.
Fase 5 – Full Moon (Bulam purnama): Sisi bulan yang menghadap bumi cahaya dari matahari benar-benar, maka seluruh bulan terlihat. Hal ini terjadi ketika bulan berada di sisi berlawanan dari Bumi.
Fase 6 – Waning Gibbous : Selama fase ini, bagian dari bulan yang terlihat dari Bumi secara bertahap menjadi lebih kecil.
Fase 7 – First Quarter (Kuartal I): Bulan mencapai tahap ini ketika setengah dari itu terlihat.
Fase 8 – Waning Crescent (Sabit tua): Hanya sebagian kecil dari bulan terlihat dalam fase yang secara bertahap menjadi lebih kecil.

Sumber : http://ddayipdokumen.blogspot.com/2013/01/macam-macam-fase-bulan.html

Upaya Mengurangi Terjadinya Bencana Alam

A.    Banjir

Banjir adalah meluapnya aliran sungai akibat air  melebihi kapasitas tampung sungai, sehinngaa meluap dan menggenangi dataran atau daerah yang lebih rendah di sekitarnya. Banjir menjadi masalah apabila banjir tersebut memberikan dampak kerusakan atau dampak negatif terhadap lingkungan manusai, antara lain :
  1. Kerusakan prasarana
  2. Tergangguanya aktivitas manusia dan aktivitas ekonomi
  3. Menurunnya kualitas hidup

1.      Faktor-faktor penyebab banjir
  1. Pengaruh aktivitas manusia :penggundulan hutan, pembangunan pemukiman
  2. Kondisi alam yang bersifat tetap (statis) : kondisi geografi, topologi yang cekung, aliran sungai
  3. Peristiwa alam yang bersifat dinamis : curah hujan yang tinggi, pendangkalan dasar sungai, terjadinya pembendungan, penurunan muka tanah atau ambles
2.      Mengurangi resiko banjir
  1. Kegiatan fisik (struktur) : pembangunan waduk, tanggul di pinggiran sungai, kanal-kanal, pembangunan interkoneksi, pembangunan polder, dan penelusuran sungai
  2. Kegiatan nonstruktur :pengelolaan dataran banjir, konversi tanah dan air di hulu sungai, penanggulangan banjir
  3. Kombinasi upaya struktur dan nonstruktur
3.      Mengatasi banjir
  1. Tindakan-tindakan persiapan banjir
  2. Tindakan-tindakan saat terjadi banjir
  3. Usaha pasca bencana banjir

B.     Tanah Longsor
Tanah longsor adalah suatu bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat dalam volume yang lebih besar. Gejala umum terjadi tanah longsor :
  1. Keretakan lantai dan tembok pada bangunan
  2. Ambles sebagian lantai kontruksi
  3. Terjadi penggembungan pada tebing lereng
  4. Miringnya pohon-pohon
  5. Munculnya rembasan air
  6. Muka air sungai naik beberapa cm dan air sungai menjadi keruh secara tiba-tiba
  7. Runtuhnya sebagian tanah

1.      Faktor-faktor penyebab terjadi longsor :
  1. Meningkatnya sudut lereng karena kontruksi baru
  2. Meningkatnya kandungan air
  3. Hilangnya tumbuh-tumbuhan karena kebakaran
  4. Berubahnya materi-materi lereng
  5. Getaran akibat gempa bumi
  6. Penambahan beban oleh hujan
2.      Mengurangi resiko bencana tanah longsor
  1. Survey dan pemetaan kawasan yang rentan
  2. Pemasangan rambu-rambu
  3. Peraturan tata guna tanah
  4. Perbaikan sarana
  5. Pendidikan masyarakat
  6. Pemantauan dan peringatan
3.      Mengatasi Tanah Longsor
  1. Menetahui dan menghindari kawasan rawan bencana
  2. Memahami tindakan-tindakan ketika terjadi dan pasca bencana longsor

C.    Tsunami
Tsunami adalah istilah untuk gelombang raksasa yang bergerak cepat dan tiba-tiba, yang diakibatkan oleh pergeseran di dasar laut. Tanda-tanda akan terjadinya tsunami :
  1. terdapat getaran kuat yang dapat dirasakan di sekitar pantai
  2. setelah getaran mereda, air laut di pantai surut tiba-tiba
  3. tsunami akan datang kira-kira 15 menit setelah gempa
  4. gelombang pertama datang tidak terlalu besar, dan berikutnya adalah yang berbahaya
  5. perhatikan tingkah laku hewan

1.      Mengurangi Resiko Tsunami
  1. perlindungan garis pantai
  2. system peringatan dini
  3. pendidikan dan pembelajaran
  4. kemitraan
  5. pemetaan kawasan rawan dan tempat evakuasi
  6. penyiapan posko bencana
  7. satgas penanganan bancana
2.      Mengatasi Tsunami
  1. mengetahui kawasan rawan tsunami
  2. memahami tindakan-tindakan persiapan, menjelang, saat terjadi, dan pasca terjadi
3.      Penyelamatan dan Pemulihan
  1. pemerintah dibantu masyarakat dan pihak-pihak lain
  2. prioritas dalam pemulihan

D.    Gempa bumi
Gempa bumi adalah sentakan asli dari bumi yang bersumber didalam bumi, merambat melalui permukaan, dan menembus bumi. Cara yang paling sering dipakai untuk mengukur besar suatu gempa adalah skala richter.
Bentuk kerusakan laingkungan akibat gempa :
  1. Rusaknya fasillitas lingkungan
  2. Amblesnya permukaan tanah
  3. Gempa bumi laut menghasilakn tsunami

1.      Mengurangi resiko gempa bumi
  1. Memetakan gempa bumi
  2. Monitoring gempa bumi
  3. Memperkirakan gempa
  4. Penerangan tentang gempa
2.      Mengatasi gempa bumi
Langkah-langkah mengatasinya :
  1. Mengenal daerah rawan gempa
  2. Mengamati perilaku hewan
  3. Memahami tindakan-tindakan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi
  4. Penyelamatan dan pemulihan
Tindakan yang harus dilakukan :
  1. Melakukan evakuasi dan mendirikan tenda-tenda pengungsian bagi korban
  2. Melakukan penyelamatan
  3. Menyediakan bantuan medis
  4. Menyediakan MCK, air, makanan, dan minuman
  5. Menyediakan pendidikan darurat
  6. Melakukan pemulihan psikologis pada korban
  7. Memperbaiki dan membangun kembali gedung, sarana, dan fasilitas lainnya.
E.     Gunung meletus
Sifat letusan gunung api terbagi menjadi dua, yaitu effusive (meletus secara perlahan) dan eksplosif (meleeetus secara meledak-ledak). Material-material yang dikeluarkan saat gunung meletus beruap abu, pasir,batuan,krikil kecil, cairan-cairan silikat, solfatar, asam arang, dan mofet. Tanda-tanda gunung meletus :
  1. Terjadi peningkatan suhu didaerah sekitar kawah
  2. Sumber-simber air yang kering
  3. Sering terjadi gempa vulkanik
  4. Sering terdengar suara gemuruh
  5. Turunnya binatang- binatang dari puncak didaerah kaki gunung
Kerusakan lingkungan yang tejadi :
  1. Timbul banyak korban
  2. Bertebaran debu-debu gunung api yang dapat membahayakan penerbangan udara
  3. Rusaknya lahan pertanian
  4. Rusaknya semua material
  5. Terbakarnya hutan
  6. Keringnya sumber-sumber air
  7. Rusaknya lingkungan sekitar

1.      Mengurangi resiko gunung api
  1. Memanfaat gunung api
  2. Tidak mengekploitasi gunung api
  3. Memahami bahaya letusan gunung api
2.      Mengatasi bencana letuasan gunung api
  1. Sebelum terjadi letusan
  2. Saat terjadi letusan gunung api
  3. Saat terjadi letusan
  4. Setelah letusan gunung api
Sumber : https://setyawanmartha.wordpress.com/2012/06/03/mencegah-dan-menaggulangi-bencana-alam/

Revolusi Bumi


Revolusi bumi adalah perputaran bumi mengelilingi matahari. Sekali berevolusi, bumi memerlukan waktu 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik atau sering disebut satu tahun pada penanggalan masehi. Adanya revolusi bumi ini tidak dapat kita rasakan namun dapat kita lihat dengan adanya:

A. Perbedaan Lama Siang dan Malam Hari
Pernahkah anda mendengar didaerah dekat kutub siang lebih cepat dari malam ataupun sebaliknya? Perbedaan lama siang dan malam hari pada setiap bagian bumi memang berbeda. Hal ini terjadi karena saat berevolusi posisi bumi tidak tegak lurus dan selalu berubah atau miring. Pada saat miring ini, terkadang bagian kutub utara miring ke arah matahari, inilah yang menyebabkan bagian kutub utara mengalami siang lebih lama. Karena posisi kutub Utara yang lebih condong kematahari. Sedangkan kutub selatan maka arahnya akan membelakangi matahari. Inilah yang menyebabkan lama malamnya lebih lama. Begitu pun dengan sebaliknya.

B. Gerak Semu Tahunan Matahari
Karena posisi bumi yang tidak lurus terhadap bidang ekliptika akibat revolusi bumi terhadap matahari maka matahari seolah-olah bergerak tidak lurus. Tidak lurus yang dimaksud disini adalah tidak tepat terbit dari timur-ke barat melainkan agak melenceng. Misalkan tenggelam dibarat daya ataupun terbit di timur laut.

C. Perubahan Musim
Karena Posisi bumi yang tidak tegak lurus melainkan agak miring. Maka menyebabkan Pada 23 September sampai dengan 21 Maret kedudukan matahari berada di belahan bumi selatan dan kedudukan bumi posisinya lebih dekat ke matahari. Sehingga menyebabkan di belahan bumi bagian selatan mengalami musim panas dan siang hari lebih lama daripada malam hari. Sedangkan, pada tanggal yang sama di belahan bumi bagian utara, seolah-olah berada pada posisi jauh dari matahari sehingga dengan sendirinya di utara mengalami musim dingin dan malam hari lebih panjang daripada siang hari.

D. Perubahan Rasi Bintang
Perubahan rasi bintang ini terjadi karena revolusi menyebabkan kemiringan bumi dan menyebabkan si pengamat setiap harinya berada pada posisi yang berbeda. Sehingga si pengamat tersebut melihat rasi bintang yang berbeda setiap tahunnya.

E. Penanggalan Kalender Masehi
Penganggalan kalender masehi ini di sempurnakan oleh Julius Caesar dari kekaisaran Roma. Kalendar ini berdasarkan perputaran bumi mengelilingi matahari. Yaitu 365 hari.
 
Sumber : http://sainsforhuman.blogspot.com/2013/06/sains-for-human-pengertian-serta-dampak.html

Rotasi Bumi



Rotasi bumi adalah perputaran bumi pada porosnya. Kala rotasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu benda untuk berputar pada porosnya. Sekali berotasi bumi memerlukan waktu 23 jam 56 menit atau 24 jam kurang 4 menit. inilah yang menyebabkan adanya tahun kabisat dimana perbedaan waktu 4 menit tersebut membuat jumlah hari pada bulan februari ditahun kabisat berjumlah 29 hari.

Bagaimana tanda-tanda adanya rotasi? Tanda-tanda adanya rotasi dapat kita lihat dengan adanya pergerakan bulan dan matahari. Bulan yang tadinya misalkan ada disebelah Timur beberapa jam kemudian tepat berada diatas kepala kita. Hal ini menunjukan bahwa bumi berputar.

 Berikut Akibat dari Rotasi bumi :

A. Pergantian Siang dan Malam

Matahari memancarkan cahaya kearah bumi, namun bentuk bumi yang bulat dan cahaya matahari yang bergerak lurus maka menyebabkan pancaran sinar matahari yang tidak merata, sehingga menimbulkan bagian bumi yang terang pada bagian depan yang berhadapan langsung dengan matahari dan bagian gelap yang berada dibelakang bumi. Hal ini menyebabkan siang ( bagian terang bumi ) dan malam (bagian gelap bumi).

B. Perbedaan Waktu di Berbagai Tempat di Bumi

Adanya Bagian gelap terang akibat bentuk bumi yang bulat dan arah sinar matahari
Dengan adanya bagian gelap terang pada bumi, yang menjadi bagian siang dan malam maka timbullah perbedaan waktu. Yang bagian terang sedang mengalami waktu siang hari sedangkan pada bagian gelap mengalami malam hari. Selain itu juga, untuk memudahkan pembagian waktu maka waktu dibagi berdasarkan dengan garis bujur dengan titik pusatnya di Greenwich (GMT 0) . Greenwich adalah kota di London Inggris yang dilalui garis bujur 0 derajat. dan setiap pergeseran 15 derajat dari Greenwich maka akan berbeda satu jam ( GMT +1 disetiap 15 derajat). 15 Derajat ini diperoleh dari 360 derajat dibagi 24 (jumlah waktu dalam jam). Indonesia sendiri memiliki perbedaan waktu 7 jam ( GMT +7 pada WIB), 8 Jam (GMT +8 pada WITA) dan 9 Jam (GMT +9 pada WIT) dari Greenwich, London, Inggris.

C. Peredaran Semu Harian Matahari

Peredaran Semu harian matahari adalah pergerakan matahari seolah-olah mengelilingi bumi. Pergerakan semu ini membuat matahari yang tadinya ada disebelah timur kemudian beberapa jam kemudian berada disebelah atas kita. Itulah yang disebut dengan peredaraan semu matahari.

D. Perbedaan Percepatan Gravitasi

Karena perputaran bumi (rotasi bumi) maka akan menimbulkan gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal sendiri terjadi akibat perputaran suatu benda dan semakin besar jari-jari rotasi suatu benda maka akan semakin besar gaya sentrifugalnya. Gaya sentrifugal ini akan mengakibatkan bumi pepat di bagian kutub (garis tengah bumi bagian kutub lebih kecil dibanding garis tengah bumi bagian katulistiwa). Perbedaan garis tengah ini mengakibatkan percepatan gravitasi bumi berbeda, sesuai hukum Newton tentang gravitasi.

E. Pembelokan Arah Mata Angin

Seperi yang kita ketahui bahwa udara bergerak dari daerah yang bertekanan rendah kedaerah yang bertekanan tinggi. Inilah yang membuat terjadinya angin (pergerakan udara). Namun, karena adanya gaya semua yang timbul akibat rotasi bumi dan gerak benda relatif terhadap bumi (gaya Coriolis) maka angin pun berbelok sehingga tidak sama persis bergerak kearah gradien tekanan.

Sumber : http://sainsforhuman.blogspot.com/2013/06/sains-for-human-pengertian-serta-dampak.html

Jumat, 05 Juni 2015

Proses Terjadinya Gunung Meletus

Di alam semesta ini banyak sekali  yang namanya gunung. Bahkan akhir – akhir ini banyak sekali gunung yang meletus. Meletusnya gunung merapi terjadi karena beberapa proses. Berikut ini merupakan proses meletusnya gunung, diantaranya:

1.      Status awas
Pada status awas, aktifitas magma dari dalam bumi ini diketahui dari naiknya suhu kawah dan adanya getaran – getaran gempa vulkanik. Temperatur magma yang sangat tinggi ini akan mendekati sumbat yang menyebabkan air memanas. Proses pemanasan ini juga akan mungkin diikuti dengan adanya rekahan – rekahan akibat tekanan magma, rekahan ini akan sangat mungkin menyebabkan bocornya danau. Kebocoran danau ini tentunya menyebabkan air danau menjadi uap dibawah kawah yang juga akan menambah tekanan dari dalam.

2.      Awal letusan Hidrovolkanik
Akibat jumlah air yang bocor masuk kedalam sudah sangat banyak akan mungkin menimbulkan letusan akibat air yang mendidih.  Letusan ini sering disebut sebagai letusan hidrovulkanik, letusan ini memang akan banyak dijumpai pada gunung api yang berada di laut., misalnya gunung Krakatau, dan gunung – gunung api di hawai, sangat mungkin yang terjadi saat ini adalah letusan. Letusan awal akibat proses ini. Sangat mungkin terdengar dentuman – dentuman serta longsoran –longsoran dinding kalau saja tekanan magma ini terus menerus mendorong maka proses letusan akan berlanjut ke proses berikutnya.

3.      Letusan semi Magmatik
Pada saat semua air di danau habis masuk dan bercampur dengan magma membara yang menyembul dari dalam, akan terjadi proses perubahan fase air menjadi uap secara mendadak, tentunya kita tahu ketika terjadi perubahan fase ini maka akan terjadi perubahan tekanan. Temperatur magma ini rata – rata sekitar 600 derajat Celcius hingga 1,170 derajat Celcius (110-2140 derajat Fahrenheit) sehingga air yang terkena magma panas ini akan serta merta menjadi uap dalam sekejap. Tekanan uap air ini akan sangat besar dan mampu menggetarkan dan bahkan melemparkan material – material vulkanik di atasnya. Sumbat kawah serta kerikil dan pasir yang berada dikelilingnya kepundan akan mungkin terlempar keluar.
Pada saat ini juga akan terjadi ketidak seimbangan landasan atau fondasi dari dinding – dinding kawah ini akan membuat dinding kawah runtuh.

4.   Letusan magmatik                                                                                                                               Ketika letusan preatik (preathic eruption0 terjadi bersamaan dengan aktifitas magmatic, maka akan sangat mungkin letusannya sangat dahsyat. Namun kalau saja letusan semi magmatic di atas dihabiskan terlebih dahulu kemudian diikuti dengan letusan magmatik, maka mungkin letusannya tidak optimum. Namun yang ditakutkan justru mengapa kemarin itu tanda – tanda kejdian pra letusan 1990 sudah terlihat kok masih juga belum meletus.